LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Follow my Blog

Visitor

BTricks

BThemes

Bahaya LMND dekati mahasiswa untuk komunis dan atheis

Pikat kaum muda lewat seminar, kaderisasi, forum diskusi, film, hingga tempat tongkrongan mahasiswa, musisi, dan peminum khamr. 

Tanggal 11 Januari 2009. Bedjo Untung (62 tahun), mantan tahanan politik (tapol) peristiwa G 30 S/PKI, sibuk meladeni tamu di rumahnya di bilangan Kota Tangerang, Banten.

Sekitar 25 orang tamu yang datang dari berbagai daerah di Indonesia bergelut dalam rapat tertutup sejak pagi hingga sore hari di rumah Bedjo. Tema rapat hari itu adalah membongkar kebohongan sejarah tahun 1965-1966.

Selain dihadiri para bekas tapol peristiwa G 30 S/PKI, rapat terbatas itu juga dihadiri sejumlah aktivis Hak Asasi Manusia (HAM). Para peserta adalah Bedjo Untung, Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965-1966 (YPKP); Mantan Letkol (Udara) Heru Atmojo, eks tapol PKI dari Paguyuban Korban Orde Baru; Sumarsih, ketua Jaringan Solidaritas Korban dan Keluarga Korban (JSKK); Casman, mantan anggota pasukan Cakrabirawa, serta para ketua YPKP daerah seperti Palembang (Sumatera Selatan), Semarang, Sulawesi, Bandung, dan Bekasi. 

Agenda Rahasia

Dari pertemuan itu, YPKP diketahui mempunyai sejumlah program kerja ke depan. Yakni, mengupayakan pencabutan TAP MPRS No.25/1966 tentang pembubaran PKI dan larangan penyebaran paham komunis/Marxisme- Leninisme, pencabutan pasal 32 dan 33 UUD 1945, serta penelusuran sejarah peristiwa 1965-1966.

Bedjo, sang empunya rumah, berbicara panjang lebar tentang pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Orde Baru dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) pimpinan mantan Presiden Soeharto. Lebih jauh, Bedjo bahkan mengklaim jatuhnya rezim Soeharto adalah buah keberhasilan usaha YPKP.

Dua pekan kemudian di tempat yang sama, pertemuan kembali digelar. Namun, rapat kali ini hanya dihadiri enam orang. Sumini Martono, mantan anggota Gerwani, ikut urun rembug.

Rupanya Polresta Tangerang mencium gelagat tidak beres ini. Polisi segera membubarkan rapat tersebut dengan alasan tidak memiliki izin.

"Sungguh sangat tidak masuk akal, dan sungguh sangat berlebihan," ujar Bedjo menanggapi aksi aparat.

Gerakan Nasional Patriot Indonesia (GNPI), yang ikut mengintai jalannya pertemuan rahasia ini, menemukan sejumlah dokumen agenda rapat. Di antara agenda tersebut adalah penguatan organisasi, pembahasan internal ideologi komunis, pencabutan TAP MPRS/25 tahun 1966, penolakan Pancasila sebagai dasar negara, serta rencana rapat kerja nasional YPKP yang akan diadakan di Puncak, Jawa Barat, atau di SBSI Center, Cisoka, Tangerang.

Ketua Bidang Khusus GNPI, Firos Fauzan, dalam laporan yang ditujukan kepada Kapolri mengatakan, pihaknya telah bekerjasama dengan ketua RT, ketua RW, dan tokoh setempat untuk menolak rapat yang digelar tanggal 25 Januari 2009 itu.

"Hasilnya, rapat tersebut dibubarkan oleh Polres Tangerang," kata Firos yang juga pengurus Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia ini.

Kado Buat Rakyat Indonesia

Sebagai wadah resmi bekas tapol dan keluarga PKI yang terdaftar di Departemen Hukum dan HAM RI, YPKP memang giat menyerukan pelurusan sejarah peristiwa 30 September 1965.

Sejak tumbangnya Orde Baru, YPKP bersama sejumlah LSM HAM intens menggelar diskusi untuk menghapus stigma negatif para bekas tapol dan keluarga PKI yang dicap sebagai dalang peristiwa berdarah 30 September 1965 ini. Sasarannya meliputi masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat. Salah satu caranya melalui pemutaran film dokumenter.

Sebuah film berjudul Kado Buat Rakyat Indonesia (KBRI) sudah merekapersiapkan untuk cuci tangan dari persitiwa G 30 S/PKI. Film tersebut berdurasi sekitar satu jam, berisi kesaksian dan komentar bekas tahanan politik PKI, tokoh HAM, aktivis mahasiswa, bahkan tokoh Islam, tentang peristiwa 1965 yang juga menelan banyak korban dari pihak PKI itu.

"Ternyata PKI tidak bersalah," ujar seorang mahasiswa seusai menonton pemutaran film tersebut di sebuah kampus di ibukota.

Dalam film ini, PKI memang diposisikan sebagai korban konspirasi rezim militer dan kaum kapitalis lokal yang disokong oleh Amerika Serikat.

Adanya pernyataan tokoh Nahdhatul Ulama, Yusuf Hasyim, dikutip secara tidak utuh dalam film ini. Yusuf dibuat seolah menyesali ribuan anggota PKI yang menjadi korban pembunuhan, tanpa menyinggung peran PKI yang mendalangi pembunuhan enam jenderal dan satu perwira TNI pada masa itu.

Selain cukup ampuh menghapus cap negatif tentang PKI, ternyata film ini juga digunakan sebagai alat kaderisasi organisasi-organisasi mahasiswa berhaluan "kiri" yang mengklaim diri mereka sebagai gerakan pro demokrasi.

Organisasi mahasiswa itu antara lain Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Front Mahasiwa Nasional (FMN), Serikat Mahasiwa Indonesia (SMI), dan Front Nasional Mahasiwa Resistance (FMNR).

Ketua Umum LMND, Lalu Hilman Afriandi, mengatakan hingga saat ini film KBRI masih digunakan pada program kaderisasi LMND. Selain lewat pemutaran film, rekrutmen kader juga dilakukan secara formal, yaitu melalui forum diskusi, advokasi isu mahasiswa, hingga tongkrongan (kumpulan) mahasiswa.

LMND sendiri kerap dicap sebagai gerakan kiri pengusung komunisme. Cap ini dilekatkan karena mereka gemar mengangkat isu-isu revolusi, pertentangan kaum buruh dan petani dengan kapitalisme.

Namun, Lalu mengaku tidak menggubris tudingan tersebut. Malah, pria kelahiran Lombok yang cukup fasih menyitir ayat al-Qur`an ini mengatakan, ”komunisme bukan lagi sesuatu yang menakutkan bagi rakyat.”

"Stigma-stigma komunis seperti itu sudah lewat lah. Itu kan usaha Orde Baru mematahkan lawan politiknya," ujarnya saat diwawancarai Suara Hidayatullah di kantor pusat LMND di kawasan Tebet, Jakarta, bulan lalu.

Atheis pun Diajarkan

Seorang sumber Suara Hidayatullah, bekas pengurus teras LMND Jakarta, mengatakan, melalui film KBRI mahasiswa diajak membenci penindasan. Tapi, tidak sampai di situ. Selanjutnya, secara berkesinambungan, kader-kader baru akan diajarkan ide-ide kiri melalui program pendidikan internal.

Ide-ide kiri tersebut, misalnya, marxisme, sosialisme, komunisme, yang mendasari gerakannya pada filsafat materialisme dialektika historis yang anti Tuhan (atheisme).

Mahasiswa yang gemar mabuk-mabukan dan sebagian seniman, menurut sumber tadi, sangat menggandrungi ideologi Marxisme. Sebab, ideologi ini menjadi dalih untuk lepas dari aturan-aturan agama.

Dalih yang digunakan untuk mengingkari tuhan adalah logika materialisme semata. "Contohnya, Tuhan tidak bisa dibuktikan secara rill, secara materi. Wujud, bentuk, ukuran, dan sifatnya tidak bisa dibuktikan oleh alat indera manusia," ujar sumber yang juga mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini.

Agung, alumnus Universitas Bung Karno Jakarta yang sempat aktif di gerakan kiri, punya cerita lain. Dulu dia pernah ditanya seniornya tentang Tuhan. ”Kalau Allah maha kuasa, bisakah Allah menciptakan batu yang sangat besar, yang Dia sendiri tidak mampu memikulnya?”

Agung mengaku sempat terjebak oleh pernyataan itu. Karena pertanyaan itu, ia menjadi tak percaya adanya Tuhan (atheis).

Namun, sekarang dia mengaku bertaubat. Dia sadar bahwa pertanyaan yang dilontarkan senior itu salah. "Pertanyaannya yang salah. Allah subhanahu wata'ala terbebas dari sifat-sifat ketidakmampuan," tukas Agung.

Doktrin filsafat materialisme atheis ala Marx bukan hanya diadopsi LMND saja. Hampir setiap gerakan yang mengatasnamakan kiri, sosialis, juga memakainya. Hal ini diakui oleh Thomas Fernando, senior Komite Aksi Rakyat Teritorial (KARAT) kepada Suara Hidayatullah.

"Iya. Saya menyaksikan banyak gerakan kiri menanamkan ide atheisme Marx kepada kader-kader mereka," ungkap Nando.

Meski model gerakan anarki yang dipakainya termasuk kiri, Nando tetap meyakini adanya Tuhan Sang Mahapencipta. Dia sendiri menjalankan shalat dan isterinya pun berjilbab.

"Anarki cuma cara atau alat pergerakan saja. Bukan sebagai ideologi," katanya.

Disinggung tentang filsafat materialisme Marx yang diajarkan di LMND, Lalu, sang ketua umum, tidak menyangkalnya. Menurutnya, organisasi dengan 60 cabang tingkat kota di 21 provinsi yang dipimpinya ini mengajarkan semua aliran besar filsafat, tidak hanya filsafatnya Karl Marx.

Namun, Lalu mengakui banyak ajaran Marx yang terbukti kebenarannya saat ini. Teori pertentangan kelas, misalnya. "(Terbukti) pertentangan politik yang terjadi saat ini adalah perang ekonomi antara borjuasi dengan buruh. (Teori) ini cukup bisa dijadikan basis analisa," katanya.

Menurut Lalu, masalah terberat dalam ajaran Marxisme adalah ketika bicara tentang Tuhan. Namun, baginya, masalah atheisme dalam ajaran Marx bukan inti persoalan. Yang penting baginya adalah ajaran Marxisme bisa dipakai untuk membedah persoalan sosial dengan sangat jelas. Dia pun mengaku tetap beragama dan bertuhan.

Seorang sumber Suara Hidayatullah mengakui, tidak semua aktivis kiri memahami dan meyakini ajaran atheis Marx. Tapi biasanya, ketua umum nasional gerakan kiri berpaham atheis.

Memang tidak ada paksaan secara absolut kepada kader untuk menjadi penganut anti Tuhan. "Itu karena mereka tidak berkuasa. Lain hal kalau mereka sudah berkuasa," kata sumber tersebut. *Riezky Andhika Pradana, Surya Fachrizal /Suara Hidayatullah
Share on Google Plus

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com