LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Follow my Blog

Visitor

BTricks

BThemes

jangan pakai uang kertas bikin anda miskin...

ALASAN MEMILIKI EMAS Segeralah mempergunakan emas dan perak; sebagai mata uang dan investasi, dan sedikit demi sedikit—lebih cepat lebih baik—menukar Rupiah, Dollar, Yen, Euro, Poundsterling, Gulden, dan sebagainya dengan emas dan perak sebagai mata uang yang sejati, karena yang lain itu sesungguhnya cuma simbol yang secara intrinsic tidak memiliki nilai apa‐apa.Apa yang kita namakan dengan mata uang sekarang ini, yaitu Dollar, Yen, Rupiah, Poundsterling, Euro,dan sebagainya, pada hakikatnya hanya selembar kertas biasa (dan yang berbentuk koin juga koin biasa yang tak ada harganya), yang hanya menjadi “uang” karena ada jaminan dari bank. Bank sendiri berani menjamin mata uang yang tak berharga tersebut karena memiliki cadangan devisa berupa emas dan perak.Emas dan perak inilah yang sampai saat ini terus berupaya direbut dan ditimbun oleh KonspirasiInternasional dari tangan seluruh warga dunia, agar emas dan perak seluruh dunia berada di tangan mereka dan di tangan yang tidak tahu hanyalah selembar kertas tidak berharga yang dipakai sebagai alat transaksi. Keadaan ini akan sangat menguntungkan kaum Konspirasi Internasional yang bisa seenaknya memainkan nilai tukar mata uang tersebut sehingga masyarakat banyak bisa dikendalikan dengan mudah.Lantas, apa sebenarnya beda emas dan perak dengan mata uang‐mata uang negara‐negara dunia yangsekarang dicetak dari selembar kertas biasa?Kehebatan Emas
Pada prinsipnya, sistem uang kertas (kartal) adalah sistem penipuan terhadap masyarakat banyak.Secara sederhana, sistem ini bisa digambarkan sebagai mencetak sebanyak‐banyaknya uang kertas (uang symbol yang sesungguhnya tidak memiliki nilai sama sekali) dan mengguyurnya ke tengah masyarakat. Di lain pihakdalam waktu bersamaan, pengelola atau pengusaha yang mencetak uang kartal itu menarik sebanyakbanyaknya batangan emas ke pihaknya dari masyarakat luas. Jadi mereka menukar uang kartal yang sama sekalitidak ada harganya dengan batangan‐batangan emas.
Nilai jual emas tetap abadi. Artinya, emas jaman dulu nilai nya sama dengan emas jaman skarang. Beda ama uang kertas, Rp 1000 jaman dulu yg bisa beli barang A, di jaman skarang, untuk beli barang yg sama, duit Rp 1000 gak bisa di pakai lagi, nombok yg ada.
Uang kertas adalah system Iblis dalam Uang kertas .Pendapat keduanya kini terbukti, karena sistem peredaran uang kertas yang dikendalikan oleh orang-orang yang hatinya berisi sampah hawa nafsu dan tempat permainan setan maka seluruh kekayaan alam di bumi ini dapat ditukar dengan setumpuk kertas yang bertuliskan Dolar dan sebagainya. Salah satu akibatnya, sekian hektar hutan menjadi gundul setelah ditukar dengan kertas-kertas tersebut. Menurut Marwah Daud Ibrahim, setiap tahunnya dua juta hektar hutan di Indonesia musnah dan kini diperkirakan hanya tinggal 60 juta hektar. Keadaan ini memungkinkan Indonesia menjadi padang pasir sebelum 2045[37]. Karena sekian hektar hutan sebagai penyangga daratan sudah lenyap, ketika musim hujan maka banjir melanda di mana-mana dan ketika musim panas maka terjadilah kemarau dengan suhu udara yang semakin panas, atau suasana api yang menjadi bahan baku penciptaan iblis atau setan dari jenis jin. Karena itu, menurut hasil studi Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2007, jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daerah-daerah di Jakarta (seperti: Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti: Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.[38]
Beberapa pendapat  tokoh mengenai emas Lihat “RI Kaji Transaksi Minyak Tanpa Dolar” Republika, 19/11/2007 dan ”Dinar Diusulkan Jadi Patokan OPEC” dalam Liputan 6 SCTV, 18/11/2007, (Liputan6.com). Mantan Perdana Menteri (PM) Mahathir Mohamad juga menyampaikan kepada pemerintah Kerajaan Arab Saudi agar menjual minyaknya dengan emas bukan dengan Dolar AS. Lihat Sell oil for gold, Mahathir says, (edition.cnn.com/January 18, 2004). Bahkan saat menjadi PM Malaysia, Mahathir sudah menyatakan sistem keuangan dunia yang tidak menggunakan emas dan perak adalah bukan sistem Islam. (Zuhaimy Ismail, Kembalinya Dinar Emas dan Dirham Perak Mata Wang Umat Islam, (Johor: Universiti Teknologi Malaysia, 2003, h. 3-4). Sejak tahun 2006, kedua mata uang ini pun diberlakukan di Klantan, salah satu negara bagian di Malaysia. (“Klantan Sudah Berdinar, Kita Kapan?”, Suara Hidayatullah, Februari 2007/Muharram 1428, h.40.
Fakta –fakta logis bahwa inflasi adalah kebohongan pemerintah 
Pengertian inflasi yang beredar di masyarakat adalah yang mitos bukan yang sebenarnya. Penguasatidak ingin kebenaran mitos ini terungkap karena kebenaran adalah musuh terbesar dari pemerintah (Goebbels).Bagi pemerintah inflasi mempunyai beberapa fungsi:1. Pajak atas tabungan2. Memindahkan kekayaan riil dari penabung ke penghutang3. Menghancurkan hutangPemerintah hidup dari pajak, tetapi pajak bukanlah hal yang populer. Bayangkan kalau anda dikenaipajak 70%‐80% dari harta atau penghasilan anda. Anda pasti marah. Oleh sebab itu perlu diciptakan cara yang lebih halus dan tersembunyi di balik kekuasaan dan hak monopoli pencetakan uang. Misalnya pemerintahmencetak uang sehingga uang yang beredar bertambah 20% per tahun, jika barang dan jasa di dalam ekonomi tidak bertambah berarti nilai uang turun sebesar 20%. Artinya nilai riil tabungan anda turun, nilai riil gaji anda turun, nilai riil hutang anda juga turun.Dengan mitos inflasi (bahwa inflasi = kenaikan harga‐harga) berarti penguasa bisa menyalahkan parapelaku ekonomi terutama pedagang. Tuduhan bisa dilontarkan bahwa karena ulah pedagang menimbun barang menyebabkan harga naik seperti yang dilakukan beberapa waktu ini terhadap produsen minyak sawit dan penyalur beras. Kemudian dibarengi dengan operasi pasar membuat image penguasa naik. Menjelekkan pedagang dan mendongkrak citra diri sendiri. Hal ini mudah dicerna dan didukung rakyat.Supaya lengkap, inflasi kemudian disamarkan dengan indeks harga bahan pokok. Kalau yang namanyaindeks, cara menghitungnya bisa dibuat rumit, menjadi intimidatif kalau melihatnya dan tidak lagi transparan. Ini mengikuti hukum: “Kalau kita tidak bisa menyakinkan orang, buatlah dia bingung supaya akhirnya pasrah dan tidak bertanya lagi”. Jadi jangan heran kalau dengar inflasi negatif tetapi harga diesel dan minyak goreng naik di atas 20% seperti yang terjadi bulan lalu. Dan tidak ada wartawan yang menyoal hal ini, karena sudahterintimidasi oleh rumit dan canggihnya perhitungan indeks harga bahan pokok atau indeks inflasi.Sebagai pajak tabungan, inflasi sangat effektif dalam menjangkau ‐underground economic‐ (ekonomibawah tanah). Kalau pekerja seperti saya ini, tangan pajak bisa menjangkau kami melalui perusahaan. Pajak dipotong langsung oleh perusahaan. Lain halnya dengan tukang bakso, tukang sayur, pengemis, pemulung,tukang ojek dan profesi sejenisnya, mereka tidak kena pajak penghasilan atau pajak penjualan. Jangan dikira mereka ini penghasilannya rendah. Seorang pemulung yang mangkal di depan rumah saya, penghasilannya Rp100.000 ‐ Rp 200.000 per hari, 365 hari per tahun. Jelas penghasilan mereka sudah melewati batas kena pajak. Sayangnya penarik pajak tidak bisa menjangkau mereka secara langsung. Oleh sebab itu diperlukanmekanisme untuk memajaki mereka yaitu lewat inflasi. Inflasi yang menggerus nilai riil tabungan mereka bisa disebut pajak terhadap harta pelaku ekonomi bawah tanah.Contoh riilnya, misalnya seorang tukang becak yang di tahun 1996 mangkal di dekat Sentral ,makassar mall . Dia memberi jasa mengantar penumpang sejauh kurang lebih 4 km ke Urip sumoharjo . Sebagai imbalannya dia diberi uang sebesar Rp 300. Artinya Rp 300 mewakili jasa mengantar sejauh 4 km dengan becak. Uang ini disimpannya di lemari sampai tahun 2011. Pada saat dia sudah tua, dia mau naik becak dengan jarak yang sama. Kalau Rp 300itu mewakili jasa mengantar sejauh 4 km dengan becak maka kapan saja dia gunakan tanda/alat pembayaranyang syah itu dia akan memperoleh jasa yang sama.Nyatanya tidak demikian. Di tahun 2011 diperlukan Rp 10.000 sampai Rp20.000 untuk jasa yang sama.Artinya nilai riil tabungan si tukang becak ini sudah termakan oleh inflasi (baca: pajak tabungan dan pajakekonomi bawah tanah) walaupun secara sadar si tukang becak tidak pernah merasa membayar pajak.Inflasi sebagai pajak, mempunyai spektrum luas. Artinya sasarannya ialah siapa saja yang mempunyaiuang yang di‐inflasikan, tidak mengenal batas negara atau kewarganegaraan, tetapi siapa saja. Seperti US dollar,yang beredar dan ngendon di bank sentral banyak negara karena dijadikan cadangan devisa serta yang ada ditabungan perorangan, laju pertumbuhan dollar yang beredar sebesar 8%‐12% berarti nilai riil simpanan dollarturun dengan laju 8% ‐ 12% per tahun. Kalau tabungan itu memperoleh bunga maka bunga itu bisa meredamsedikit turunnya nilai riil tabungan.
Jangan kita sekali‐kali menyangka bahwa jika kita tidak terlibat dengan urusan bank, kita terlepas darilaknat mengamalkan riba. Selama waktu kita memakai uang kertas, maka uang kertas itu akan mengalami susut nilai yang berkepanjangan, yang secara langsung menyebabkan merosotnya kekayaan dan harta benda kita. Susut nilai ini adalah satu bentuk cukai yang dikenakan oleh bank secara halus kepada semua pengguna uangkertas. Ini karena bank mengucurkan kredit (kemudahan membayar belakangan atau penangguhanpembayaran), dan pengembangan kredit menyebabkan inflasi.
Berbagai cukai seperti cukai tanah dan sebagainya yang dikenakan oleh negara kepada rakyat, jugamemperkokoh inflasi. Negara memungut cukai untuk membayar kelebihan atau tambahan hutang Negara kepada bank. Karenanya, negara sudah menjadi unit penghutang, yang memeras dan menindas masyarakatnya dengan segala macam bentuk cukai. Sektor swasta menjaminkan aset mereka, pemerintah telah menjaminkan harta benda nasional kepada bank, maka terangkum dalam hutang swasta dan hutang nasional itu, maka dunia sudah dijaminkan dan digadaikan kepada perserikatan bank se‐dunia. Jikalau uang kertas tidak dihentikan penggunaannya, pemindahan kekayaan yang berterusan dari nasabah peminjam kepada pemberi pinjaman (bank) akan berkelanjutan.Yang tidak diakui secara terus terang oleh Greenspan adalah, fakta bahwa sudah sejak lama tidak bijaksana untuk menyimpan uang Anda dalam mata uang kertas apapun. Fiat money alias uang kertas adalah jenis uang yang dianggap legal dan bernilai oleh suatu hukum. Dollar, Euro, Franc, Mark, Poundsterling, Rupee, Ringgit, Peso, Rupiah, Bath tak ada satupun yang didukung oleh nilai nyata kertasnya sendiri. Fiat money tidak memiliki nilai intrinsik (instrinsic value), sebagai kebalikan dari uang komoditas (commodity money) sepertiDinar‐emas, perak, atau perunggu. Seandainya besok, karena alasan tertentu, pemerintah AS mengumumkan bahwa mereka akan mendevaluasi uang kertas US$ 100 menjadi bernilai US$ 10, maka miliaran orang di dunia tak bisa berbuat apa‐apa kecuali pasrah dan menerima 'kenyataan' bahwa dalam 24 jam ke depan mereka akan jauh lebih miskin.Hal seperti itu tidak akan terjadi dengan emas. Bahkan kalau seluruh pemerintah di muka bumimenyatakan bahwa emas adalah "barang tidak berharga", orang tidak akan peduli dan tetap memburu emas.Emas tetap emas, orang selalu akan menganggapnya bernilai tinggi sampai kiamat.
Nilai sebuah koin emas 22 karat di masa lampau ‐‐lebih dari 1400 tahun silam‐‐ masih tetap samadengan nilainya hari ini. Tidak ada devaluasi, tidak ada inflasi. Bakar dan cairkan sepotong emas, nilainya tetapsama. Cobalah bakar setas penuh dollar AS dan gunakan arangnya untuk beli sepiring nasi. Parahnya lagi, Andatidak perlu membakar uang kertas untuk membuatnya tidak bernilai. Simpan saja semua uang Anda dalam dollar, rupiah, dan lain‐lain; sesudah beberapa tahun nilai uang Anda pasti akan turun kalau tidak anjlok.Nyatanya, nilai dollar terhadap emas terus menurun sejak tahun 1970an sampai hari ini. Kebanyakan orang akan mengira bahwa itulah sifat uang, selalu mengalami inflasi. Namun, kelompok  masyarakat Amerika sendiri seperti FAME (Foundation of the Advancement of Monetary Education) atau GATA (Gold Anti‐Trust Action Committee) berpikiran lain. Beberapa tahun belakangan ini mereka semakin keras bersuara tentang perlunya perombakan sistem moneter yang berbasis fiat money. Mereka mewakili masyarakat AS yang merasa dirugikan, karena nilai tabungan dollarnya yang didapat dengan kerja keras bertahun‐tahun ternyata turun setiap tahun. "Karena kesalah‐fahaman dan tertutupnya sistem fiat dollar, maka ini suatu penipuan besar‐besaran," demikian pernyataan Lawrence Parks, direktur ekskutif FAME.Sekali lagi, inilah Muslihat uang kertasLain dengan emas / perak, yakni uang riil yang terbuat dari bahan bernilai intrinsik dan bukan sekadar kertas tak berharga yang diberi nilai nominal oleh suatu negara ‐ yang hampir bersamaan dengan fenomena krismon di berbagai negara bukanlah suatu kebetulan. Upaya ini merupakan tindakan konkret atas kritik system uang kertas yang bermasalah dan tidak adil. Coba renungkan fakta ini.Pada awal 1970‐an harga setongkol jagung Rp 5,‐, sedangkan saat ini ‐ 30 tahun kemudian ‐ setongkol jagung yang sama harus kita bayar dengan uang sebesar Rp 1.000,‐. Artinya, barang yang sama harus kita bayar dengan harga 200 kali lipat dalam kurun waktu tersebut, atau nilai rupiah kita melorot tinggal 1/200 nilaisemula. Apakah persoalannya karena mata uang kita, yakni rupiah, yang terus melorot nilainya?Jawabnya: bukan. Yang jadi sumber persoalan atas kenaikan harga barang‐barang, atau penurunan nilai mata uang, bukan karena rupiahnya, melainkan karena sistemnya, yakni uang kertas. Coba perhatikan nasib yang sama yang dialami oleh dolar Amerika, yang merupakan mata uang terkuat di dunia saat ini. Pada kurunyang sama nilainya juga merosot drastis. Ambil patokan waktu yang sama, yakni awal 1970‐an, nilai tukar dolar AS terhadap emas adalah AS $ 35 untuk setiap ounce (31 g), atau AS $ 1,1 per gram. Hari ini nilai tukar dolar AS terhadap emas adalah AS $ 350 untuk setiap 31 g emas, atau AS $ 11,3 per gram. Artinya, nilai dolar AS dalam kurun 30 tahun melorot tinggal kurang dari 1/10 nilai semula. Jadi, dalam hal kemerosotan nilai, rupiah dandolar, serta mata uang kertas lain apa pun, setali tiga uang. Dengan berjalannya waktu uang‐uang itu selalu kehilangan nilai. Akibatnya, kita semua dirugikan. Hasil jerih payah cucuran keringat dan kerja keras kita, mengumpulkan harta dengan cara menabung setiap kali terkikis begitu saja. Berlawanan dengan peribahasa yang kita kenal sejak kecil, sedikit demi sedikit pengumpulan harta yang kita peroleh secara sah itu tidak pernahmenjadi bukit. Inilah muslihat uang kertas!Uang kertas = Uang fiktif?Uang kertas adalah kertas dengan gambar tertentu yang nilai nominalnya ditentukan oleh negara lewat keputusan politik. Kita sebagai warganegara, kemudian dipaksa untuk mengakui nilainya dan menggunakannya sebagai alat tukar uang karena undang‐undang. "Barang siapa meniru, memalsukan, atau menolak uangtersebut", lantas dianggap melawan negara. Sebaliknya, negara ‐ dengan kekuasaan politik dan hukumnya ‐ berhak untuk terus mencetak dan mengedarkan, dan menentukan nilai, berapa pun yang negara (baca: parapolitisi dan birokrat negara) suka. Maka, apa yang terjadi? Kekayaan kita sebagai warganegara, atau bahkan sebagai manusia, yang bekerja keras untuk mendapatkannya, hakikatnya ditentukan oleh negara. Secara semena‐mena kekayaan itu dirampas secara terus‐menerus, dari waktu ke waktu. Tentu, tidak dikatakan Negara yang merampas kekayaan tersebut, melainkan inflasi! Perampasan kekayaan secara drastis dan semena‐mena dapat dilakukan oleh "pasar". Inilah yang kita alami dalam krismon 1997. Kita semua, kecuali segelintir orang, miskin mendadak. Para ekonom akan menyebutkan inflasi atau, dilihat dari segi nilai tukar mata uang atas barang‐barang, adalah depresiasi uang kertas sebagai biang keladi. Namun, para ekonom itu tidak pernah menjelaskan yang sebenarnya terjadi, yakni  pangkal persoalannya berada  ada sistem uang kertas yang penuh muslihat itu. Untuk memahaminya secara lebih baik, kita harus mulai dengan mengerti cara kerja sistem finansial modern. Sistem finansial saat ini ditopang oleh segi tiga uang kertas, bunga, dan kredit (utang). Dalam sistem initerjadilah sewa‐menyewa uang, di satu sisi, dan penciptaan uang tanpa batas di lain sisi. Institusi yang membuatsemua itu terjadi adalah perbankan. Simak cara kerja bank berikut ini. Pasangan tak terpisahkan dari bank adalah bunga. Dua faktor ini memungkinkan penciptaan uang lewat utang tanpa bank dan bunga, bila A meminjamkan kepada B sebesar Rp 100 juta, maka uang A berpindah tangan kepada B dengan jumlah yang tetap. Namun, dengan bank dan bunga, uang yang sama bukan saja berpindah tangan, tetapi juga "berputar", hingga jumlahnya berlipat ganda.Katakanlah Bank C menerima uang Rp 100 juta dari A, dan membukukannya dalam buku rekening. Bank C akan meminjamkan kepada nasabah D sebesar Rp 90 juta, karena Rp 10 juta harus ditahan sebagai cadangan, yang kemudian mendepositkannya di Bank E. Maka, bank E memiliki uang sebesar Rp 90 juta itu, sementara dalam buku Bank A tetap tercatat uang yang Rp 100 juta. Selanjutnya, Bank E dapat meminjamkannya kepada nasabahnya sebesar Rp 81 juta. Demikian seterusnya. Dalam satu putaran ini saja, terakumulasi uang sebesar Rp271 juta, sedangkan uang asalnya hanya Rp 100 juta. Artinya, Rp 171 juta adalah uang fiktif. Apa akibatnya? Inflasi, yang artinya depresiasi uang (kertas).Perbankan melakukan semua itu dengan tujuan memperoleh bunga pada piutang tersebut. Bagi bank uang nasabah adalah liabilities karena bank harus membayarkan bunga atasnya. Karena itu bank akan terus mengutang‐utangkan uang yang ada padanya, dan dengan cara begitu penciptaan uang pun terus terjadi. Adalah keniscayaan, kalau terjadi rush ‐ para nasabah mengambil uang pada saat yang sama ‐ terjadi keruntuhan bank (uangnya memang tidak ada!). Sementara itu dampak dari penciptaan uang yang terusmenerus iniadalah inflasi yang juga terusmenerus. Secara teknis istilah inflasi ini diberi arti "kenaikan harga barangbarang". Padahal, kualitas dan kuantitas suatu barang dari waktu ke waktu tidak berubah. Setongkol jagung atau  seekor ayam sepanjang zaman tetaplah setongkol jagung dan seekor ayam. Ini membuktikan, yang bermasalahbukanlah nilai barang itu melainkan nilai uang kertas yang digunakan sebagai alat tukarnya.
Share on Google Plus

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com