LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pages

Follow my Blog

Visitor

BTricks

BThemes

Feminisme aspek yang bikin manusia punah

wanita sekarang cenderung gak mau nikah??
Bahaya pola pikir feminisme di kalangan perempuan mulai menyeruak ke permukaan ,dan tidak saja di latar belakangi karena pengaruh kartini yang meminta persamaan hak antara wanita dan laki-laki..sehingga menyebabkan pola piker serta taraf pendidikan perempuan semakin tajam,kritis,dan individualis ..yah dan akhirnya sampai pada pemikiran buat apa menikah toh..tanpa seorang lelaki ataupun suami saya bisa mandiri ,hidup layak dan tenang,,tanpa perlu direpotkan urusan tetek bengek gmana repotnya mengurus anak,suami,belum lagi tuntutan pekerjaan yang menyita waktu ,,,dan kalo pemikiran seperti ini terus di lestarikan maka saya yakin dan percaya Angka perkawinan menurun sebagian karena orang yang menunda akibat terjadi perubahan dalam pola hidup mereka. Bahkan dalam suatu survey ,Usia pernikahan telah meningkat di seluruh dunia, tetapi yang paling mencolok peningkatan usia pernikahan terutama terjadi di Asia. Usia rata-rata pernikahan di negara yang kaya seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Hong Kong telah meningkat tajam dalam beberapa dekade terakhir, mencapai usia 29-30 untuk perempuan dan 31-33 untuk pria.

Di dalam survey ini juga Banyak orang Asia memilih tidak menikah. Mereka tidak menikah sama sekali. Hampir sepertiga dari wanita Jepang berusia 30-an, mereka belum menikah, mungkin setengah dari mereka memilih tidak menikah.
Lebih dari seperlima wanita berusia 30-an di Taiwan, akhirnya mereka menjadi perempuan tunggal, atau tidak akan pernah menikah. Di beberapa wilayah, jumlah perempuan yang tidak nikah sangat mencolok.
Di Bangkok, 20% dari perempuan yang berumur 40-44 tahun, kemudian memilih tidak menikah. Di Tokyo, 21%, perempuan yang berumur 40 tahun memilih tidak menikah. Mahasiswi lulusan universitas di Singapura, 27% memilih tidak menikah. Sejauh ini, tren di beberapa negara itu, tidak mempengaruhi pertumbuhan penduduk dua raksasa Asia, China dan India.
Dan tentu saja akibat rendahnya usia pernikahan mengakibatkan rendah pula angka kelahiran bayi bagi negera tersebut ,sebagai contoh ,Negara Singapura yang masyarakatnya terancam lost generation member insentif kepada setiap pasangan yang menikah dan melahirkan anaknya ,,hal ini di sebabkan rendahnya angka kelahiran penduduk singapura
Pemerintah Singapura juga memberikan satu dollar untuk setiap dolar kontribusi orangtua ke Children Development Account anak-anak mereka. Orang tua menerima skema “Baby Bonus” ketika mereka mendaftarkan kelahiran anak mereka di rumah sakit dan Otoritas Imigrasi dan Pemeriksaan.
Skema “Baby Bonus” memberikan insentif tunai bagi orang tua untuk membantu mereka membiayai biaya keuangan dalam membesarkan anak. Berdasarkan skema ini, orang tua diberikan insentif uang tunai hingga S$ 4.000 masing-masing untuk anak pertama dan kedua, dan S$ 6.000 masing-masing untuk anak ketiga dan keempat. demikian laporan Channel News Asia (CNA).
Mungkin, faktor-faktor ekonomi yang mendorong mereka memilih tidak menikah. Di Asia kondisi itu membawa konsekuensi, dan diperburuk oleh aborsi serta adanya seks bebas. Pada tahun 2050, akan ada lebih banyak orang yang berusia 60 an tahun, terutama perempuan di China dan India yang belum menikah.
Tetapi, mengapa banyak perempuan yang menunda dari pernikahan saat mereka pergi bekerja? Karena, bagi seorang perempuan, sangat sulit memilih antara menikah dan bekerja.
Tetapi, sekarang semuanya telah berubah. Banyak perempuan yang lebih memilih bekerja, dan memilih tidak menikah. Ini dampak ideologi feminisme dan kesetaraan yang merasuk dikalangan perempuan Asia,dan mulai menjalar ke Indonesia padahal Al Qur’an sendiri secara jelas melekatkan peran mulia seorang ibu yang simetris dengan peranan membangun rumah tangga mulia. Dalam surah Al Ahzab ayat 33, Allah berfirman,
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”
Islam disini bukan berarti melarang seorang istri bekerja, karena bekerja diperbolehkan dalam Islam. Tapi Islam hanya mendelegasikan bahwa sekalipun perempuan bekerja itu harus dalam kondisi darurat dan pekerjaan bukanlah sebagai pokok tugas utamanya, karena tugas utama mencari nafkah ada pada fihak suami sedangkan istri memiliki beban yang lebih mulia: orang pertama yang menyiapkan generasi rabbani.
Perihal peran wanita dalam menyiapkan generasi emas Islam, Muhammad Quthb dalam bukunya Ma’rakah At Taqalid pun menulis,
“Islam memperhatikan pria dan wanita karena mereka akan menjadi ibu-bapak produk baru. Tetapi Islam lebih memperhatikan wanita, karena wanitalah pembangun hakiki dari generasi. Sedangkan ayah baru menyusul kemudian. Mungkin ayah yang akan mendidik tapi itu nanti sesudah peranan sang ibu. Itulah sebabnya Islam mengusahakan terjaminnya belanja hidup sang ibu, agar ia tidak usah bekerja di luar rumah.”
Kebenaran Al Qur’an dan konsep Islam dalam mendudukkan perang seorang wanita menjadi ibu di rumah memang terbukti benar dalam serangkaian penelitian. Di Inggris kini telah terjadi tren dimana para wanita sudah terfikir meninggalkan karirnya dan memilih untuk berkonsentrasi di rumahnya.
Sebuah majalah wanita, Genius Beauty, maret lalu memberitakan bahwa para psikolog dan sosiolog Inggris menemukan bahwa 70% wanita Inggris meninginkan membangun sebuah keluarga yang bahagia bersama dengan pasangan mereka. Mereka memiliki kecendrungan untuk menjadi wanita yang lebih dekat kepada anaknya, ketimbang dengan “bos” nya.
Bahkan Kathy Caprino dalam bukunya “Breakdown, Breakthrough” juga memiliki kesimpulan hampir sama. Ia meneliti banyak wanita yang terjun ke dunia pekerjaan cenderung tidak bahagia. Lima alasan terpopuler mengapa mereka tidak bahagia akan pekerjaan yang disandangnya menurut Caprino adalah:
1. Merasa tidak akan bisa seimbang antara bekerja dan mengatur keluarga
2. Menderita Masalah Finasial parah
3. Tidak sungguh-sungguh menjalani bakat dan keahlian dengan hati
4. Merasa tidak berharga dan dihormati
5. Hanya mendapatkan sedikit hal positif dan kesenangan dalam pekerjaan


Islam tidak menyukai wanita dilelahkan syarafnya dengan bekerja memeras tenaga. Wanita yang bekerja pulang ke rumah sudah dalam keadaan lelah seperti halnya si pria sendiri. Syarafnya tegang dan otot kaku. Lalu timbullah pergeseran-pergesaran tegang antara dia dengan suaminya. Kedua-duanya tidak mau mengalah. Anak-anaknya pun lalu merasa tidak punya ibu. Yang terasa oleh mereka adalah mereka punya dua ayah, yang sama-sama pria. (Muhammad Quthb)
Share on Google Plus

About Admin

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 komentar:

Sani mengatakan...

kenapa ndak bisa dibaca ini nah??

Iswandi mengatakan...

sangat membangun postingan ini, pemikiran yg cerdas...

Admin mengatakan...

Terima kasih sudah mau berkomentar....semoga postingan berikutnya lebih baik..

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com