Nasi yang menangis ..
3 min read
Sewaktu kecil terkadang
saya selalu mendengar satu hal dari Mama saya : Ambil makanan secukupnya, kalau
habis baru tambah lagi . waktu itu Mama saya sering berkata , makanan yang
terbuang akan menangis ( Menangis dalam arti harfiah) .Saat kecil saya bahkan
sangat percaya pada kebenaran cerita mama saya ,Meski pada waktu itu saya
bertanya : Kenapa suara tangis nya tak kedengaran?
Mama saya menjawab :
hanya orang orang dulu yag bisa mendengar , kuping manusia tak akan bisa
mendengar makanan menangis, Seringkali manusia tinggal di kota , “berperangai
sok beradab” : Makan di restoran atau kafe dengan memesan sejumlah makanan yang
mudah atau sulit dihafalkan namanya kemudian menyisakan seonggok makanan di
pinggir piring , Kita melakukan semua itu , seolah olah ,menyisakan makanan
saat makan di depan publik adalah aturan table
manners ,dibuat oleh seorang koki dunia dan disahkan oleh presiden kita
yang gemar blusukan.
Saya menyukai tipikal
orang yang “membersihkan “ piring saat makan di mana pun . Sebab , saya
meyakini dalam agama saya : dalam sebutir makanan ada berkah. Baru baru ini
National Geographic merilis data sederhana dan fantastis . Data makanan yang
terbuang di dunia .
Dari data itu diketahui ,
setiap tahun orang di negara negara kaya membuang 222 juta ton makanan , yang
sebenarnya bisa memberi makan buat satu benua Afrika. Sementara pertahunnya
diperkirakan sebanyak 4 milyar Ton makanan dibuat dan seperempatnya akan
terbuang percuma . Secara teori seperempat yang terbuang itu bisa memberi makan
842 juta orang kelaparan di dunia .Produksi makanan yang terbuang itu
mengahabiskan 250 kubik kilometer air yang setara dengan 4,5 milyar bak mandi.
Mesin mesin pendingin
makanan yang diramalkan akan meminimalkan makanan terbuang , justru tidak
berkorelasi , sebab yang salah terletak pada gaya hidup kita : Menyisakan
makanan saat makan di luar rumah , di
restoran , kafe , dan counter –counter makanan di mal . Yang terbuang adalah
makanan yang tidak diolah dibumbui dengan aneka rempah yang membangkitkan dua hasrat
paradoks : hasrat untuk melahap dan hasrat untuk membuang.
Minggu lalu saya jalan
jalam ke salah satu mal , kali ini bukan cuci mata ,Saya berdiam diri di Mal
hingga food court nya tutup dan saya mengikuti sekolompok mas mas yang membawa
kereta sampah .Di samping Mal, ada sebuah ruangan yang terbuka dan disanalah
tumpukan sisa –sisa makanan dari para konsumen berakhir .Saya bayangkan , tentu
ada pengemis dan gelandangan yang akan datang ke sana tengah malam atau subuh
hari dan alangkah mengerikannya kita , karena kita bisa saja membeli seporsi
makanan, membaginya menjadi dua : satu bagian untuk kita santap dan satu bagian
bisa kita berikan kepada seorng gelandangan yang kedinginan di jembata
penyeberangan atau yang kita temui di jalan saat pulang dari sebuah makan malam
atau makan dalam waktu apapun Dan memberikan makanan kepada pengemis atau
gelandangan tidak sama dengan memberi uang .Berbagi makanan adalah berbagi “rasa
hangat “ kepada siapa saja .Dua orang yang tidak saling kenal bisa menjadi
akran karena makanan.
Dan Kembali kepada kisah
Mama saya tentang makanan yang menangis , kenapa bisa cerita itu ada dalama
keluarga kami.?? Entahlah terlepas dari benar tidak nya toh ada kearifan dalam
kisahnya : berhentilah membuang sesuatu yang patut dan berhentilah melazimkan
sikap yang tak senonoh. ..Saya adalah termasuk bersuku Bugis yang hidup dengan
memakan rakus ayam fried chicken, dan saya pun termasuk kaum bergama pemakan
coto, tentu “ suara makanan menangis “ tak akan sampai ke telinga saya .